Home » » ORGANISME NON IKAN

ORGANISME NON IKAN

Karta Jaya | 1/10/2011 | 0 komentar |

Lautan Biru (Januari 2011), Organisme non ikan yang menjadi tujuan penangkapan dengan menggunakan perangkap terdiri atas gurita, kepiting, rajungan, lobster, dan siput. Ke-5 jenis organisme ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi, terutama jenis-jenis lobster. Perangkap merupakan jenis alat tangkap yang cocok untuk menangkap ke-5-nya, karena tidak mematikan dan  tidak merusak bagian tubuhnya. Dengan demikian, kondisinya tetap segar dan harga jualnya tetap tinggi. 
1. Gurita
 Gurita hidup di dasar laut, bergerak lambat dan merambat di batu-batuan terumbu karang (Asikin, 1981 dan Nontji, 1987). Tubuhnya lunak, tanpa cangkang, tanpa sirip dan terbagi atas kepala, badan dan 8 tentakel atau tangan. Badan gurita menyatu dengan kepala, sehingga badan gurita sering dianggap sebagai kepalanya.
Gurita dan cumi-cumi dikelompokkan dalam kelas chepalopoda. Keduanya berbeda pada kelompok ordo, karena cumi-cumi berkaki 10 (ordo decapoda) dan gurita berkaki delapan (ordo decapoda). Voss & William (1971) dan  Roper et. al. (1984) mengklasifikasikan gurita sebagai berikut:
Filum : Molusca,
            Klass : Cephalopoda,
                        Sub klas : Cleoidea,
                                    Ordo : Octopoda,
                                                Sub ordo : Incirrata,
                                                            Famili : Octopodidae,
                                                                        Sub famili : Octopodinae,
                                                                                    Genus : Octopus, dan
                                                                                          Spesies :O.aegina, O. tetricus    

 Meskipun bertubuh lunak, gurita memiliki mata dan rahang yang tumbuh dengan baik. Menurut Asikin (1981) dan Suwignyo (1989), mulutnya berbentuk paruh yang kuat untuk mengoyak dan menggigit mangsanya. Kulit tubuhnya banyak mengandung kromatofora yang berisi pigmen hitam, merah dan kuning yang dikendalikan oleh sistem syaraf. Warna tubuhnya dapat berganti-ganti sesuai dengan keadaan lingkungannya.
Gurita tergolong hewan karnivora. Makanannya terdiri atas siput, kepiting, udang dan ikan. Aktivitas makannya berlangsung pada malam hari, sedangkan pada siang hari bersembunyi di dalam lubang atau celah-celah batu. Gurita selalu dihindari oleh predator, karena dapat membius indera chemoreceptor (Asikin, 1981 dan Suwignyo, 1989)
Gurita lebih suka merayap untuk mencari lubang atau celah karang atau cangkang moluska kosong untuk digunakan sebagai tempat persembunyiannya. Jika tidak menemukan tempat yang cocok, maka gurita akan membangun sarang dari batu-batuan dengan menggunakan ke-8 tangannya. Menurut Grzimek (1976), gurita akan bergerak mundur dengan cepat ketika berhadapan dengan predator atau menemui gangguan.
Penyebaran gurita sangat  luas dan terdapat hampir di seluruh perairan, mulai dari perairan dingin hingga panas. Dari perairan pantai hingga perairan dengan kedalaman lebih dari 1.000 m (Asikin, 1981). Roper et al (1984) menyebutkan bahwa gurita yang hidup di daerah karang sampai batas paparan benua pada kedalaman 200 m diantaranya adalah O. cyaneus, O. selena, O. mambranaceus, O. brianeus, O. vulgaris, dan O. joubini. Jenis gurita yang hidup di padang lamun adalah O. vulgaris dan O. maya.
Beberapa jenis gurita yang sudah dikenal sebagai makanan, menurut Asikin (1981),  adalah O. vulgaris,         O. dofleini, O. cyaneus, O. mambranaceus, O. tetricus, O. variabilis, dan O. ocelltus. Dari ke-7 jenis tersebut,  O. vulgaris adalah jenis gurita yang paling populer dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Panjang badannya dapat mencapai 60-70 cm. 

2. Kepiting
Klasifikasi kepiting, menurut Moosa et. al. (1985) diacu oleh Kusnadi (2002), adalah sebagai berikut.
Filum : Arthropoda,
Sub filum : Mandibulata, 
Kelas : Crustacea,
Ordo : Decapoda,
Sub ordo : Reptantia,
Famili : Portunidae,
Sub famili : Portuninae,
Genus : Scylla, dan
Spesies :     S, serrata,
S. tranquebarica,dan
S. oceanic.
Sulistiono  et. al. (1994) membedakan morfologi ke-3 jenis kepiting bakau tersebut sebagai berikut.
Uraian
Karakteristik
Scylla serrata
Scylla tranquebarica
Scylla oceanica
Dominasi warna
Merah tua hingga coklat keunguan
Hijau, ungu kehijauan atau coklat ungu
Hijau atau hijau keabuan
Duri pada dahi
Landai
Agak tajam
Tajam atau runcing
Duri pada bagian luar karpus
Duri mengecil atau menghilang
Ada dua duri, tetapi duri yang satu lebih kecil
Ada dua duri yag sama besar
Lekukan karapas
Tidak terlalu dalam
dalam
dalam

Masyarakat Indonesia mengenal  Scylla serrata sebagai kepiting bakau. Beberapa negara menamainya berbeda-beda, misalnya ketam batu (Malaysia), kepiting lumpur (Astralia), kepiting samoan (Hawaii), alimago (Filipina), tsai jim (Taiwan), dan nokogiri gazami (Jepang) (Soim, 1994).
Kepiting bakau aktif mencari makan pada malam hari dan berisitirahat dengan membenamkan diri dalam lumpur pada siang hari (Hill, 1974). Makanannya, menurut Kasry (1984),  berupa organisme yang bergerak lambat atau jenis makro zoobenthos, seperti kerang, keong, krustacea dan cacing. Bangkai juga termasuk makanannya, karena kepiting tergolong hewan omnivorus scavengers. Kemampuan makan kepiting, menurut Hill (1974), menjadi berkurang pada masa molting, karena kepiting tidak melakukan aktivitas apapun.
Kepiting memiliki sebaran geografis yang sagat luas, mulai dari pantai timur Afrika, India, Srilangka, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, China, Taiwan, Jepang, Papua Nugini, Australia dan pulau-pulau di utara Selandia Baru. Menurut Sulistiono et al (1994), kepiting ditemukan di daerah air payau dan tertangkap di sebagian besar wilayah pesisir Indonesia, yaitu di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya.
            Kepiting mendiami daerah intertidal dengan suhu air antara 13-40oC dalam setahun. Jenis  Scylla serrata ditemukan pada dasar perairan yang berlumpur dengan kisaraan pH antara 7,9-8,3 (Sulistiono et. al., 1994). Pada tingkat juvenile, kepiting jarang terlihat di daerah bakau, karena cenderung membenamkan diri di dalam lumpur. Juvenil lebih menyukai tempat-tempat yang terlindung, seperi saluran air, di bawah batu, atau di sela-sela akar pohon bakau (Suhaimin, 1990). 
3. Rajungan
Klasifikasi rajungan, menurut Stephenson & Chambel  (1959), adalah:
Filum : arthropoda,
Kelas : Crustacea,
           Sub kelas : Malacostraca,
Ordo : Decapoda,
Sub ordo : Reptantia,
Seksi : Brachyura,
Sub seksi : Branchyrhyncha,
Famili : Portunidae,
Sub famili : Portuninae,
Genus : Portunus, dan
Spesies :     P. pelagicus, P. sanguinolentus,
P. Charybdis, P. feriatus,
P. Podopthalamus, dan P. vigil.
Rajungan memiliki karapas berbentuk bulat pipih dengan warna yang sangat menarik. Karapas lebih besar ke arah lebar daripada panjangnya. Pada bagian sebelah kiri dan kanan karapas terdapat duri besar. Karapas, menurut Victoria (2000), merupakan lapisan keras (exoskleton) yang menutupi organ internal yang terdiri atas kepala, thorax dan insang. Pada bagian bawah karapas terdapat mulut dan abdomen. Insang merupakan struktur lunak yang terdapat di dalam karapas. Mata menonjol di depan karapas membentuk tangkai pendek. Nontji (1987) menyebutkan rajungan jantan memiliki ukuran karapas yang lebih besar dan capit yang lebih panjang dibandingkan dengan rajungan betina. Warna karapas rajungan jantan kebiru-biruan dengan bercak-bercak putih terang. Rajungan betina memiliki warna karapas kehijau-hijauan dengan bercak putih suram. Perbedaan warna terlihat pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa. Panjang karapas dapat mencapai 18 cm
Stephenson & Chambel (1959) menyebutkan rajungan memiliki 5 pasang kaki. Sepasang sebagai capit, 3 pasang kaki jalan, dan sepasang kaki renang. Kaki pertama yang berukuran besar disebut capit yang berfungsi untuk memegang. Capit tersebut kokoh dan berduri. Bagian ujung sepasang kaki terakhir  menyerupai dayung dan menjadi alat renang. Oleh sebab itu, rajungan dimasukkan ke dalam golongan kepiting renang (swimming crab). Menurut Thomson (1974), rajungan dapat berjalan dengan sangat baik sepanjang dasar perairan dan daerah intertidal berlumpur yang lembab. Rajungan sedikitnya memiliki lima pasang kaki yang rata agar mereka dapat melintasi air dengan efisien.
Rajungan mendiami habitat yang  beraneka ragam, mulai dari pantai berpasir, pantai pasir berlumpur, hingga sekitar bakau. Dari seluruh habitat tersebut, rajungan lebih menyukai habitat dengan dasar pasir berlumpur (Moosa et. al., 1980). Menurut Nontji (1987), rajungan dapat hidup di dasar perairan sampai kedalaman 65 m, tetapi sesekali dapat terlihat di permukaan laut.
Secara geografis, penyebaran rajungan meliputi daerah Atlantik, Lautan Teduh, Laut Merah, Pantai Timur Afrika, Jepang, Indonesia dan Selandia Baru. Rajungan yang hidup di perairan Indonesia dapat ditemukan di perairan Paparan Sunda dan perairan Laut Arafura dengan populasi yang padat pada daerah sekitar pantai (Martosubroto et. al., 1991).
4. Lobster
Menurut Sadayoshi Miyake (1982) diacu oleh Sondita et. al. (1993), losbter diklasifikasikan sebagai berikut.
Super klass : Crustacea,
Klass : Malacostraca,
Ordo : Decapoda,
Sub ordo : Dendrobranchiata,
Super famili : Palinuroidea,
Famili : Palinuridae,
Genus : Panulirus, dan
Spesies : P. homarus, P. penicillatus, P. ornatus,
P. versicolor, P. longipes, dan P. polyphagus.
Tubuh lobster diselubungi kerangka kulit yang keras, berzat kapur dan duri-duri. Pada kerangka kulit ini terdapat warna-warna yang indah. Duri-durinya kuat dan tajam. Lobter, menurut Subani (1978), mudah dibedakan dari udang lain,  karena kulitnya yang kaku, keras dan berzat kapur. Moosa dan Aswandy (1984) menyebutkan bahwa cirri-ciri morfologi lobster adalah:
1.
Badannya besar dan dilindungi oleh kulit keras yang berzat kapur;
2.
Memiliki duri-duri keras dan tajam, terutama di bagian atas kepala dan antena atau sungut;
3.
Antena tumbuh dengan baik, terutama pada antena kedua yang melebihi panjang tubuhnya;
4.
Pasangan kaki jalannya tidak mempunyai capit, kecuali pada kaki ke-5 betina;
5.
Dalam periode tumbuhnya lobster selalu berganti kulit (moulting); dan
6.
Memiliki aneka warna, yaitu ungu, hijau, merah, dan abu-abu yang membentuk pola yang indah.
Lobster tidak menyukai tempat yang terbuka dan berarus kuat. Kedalaman perairan yang disukai lobster sekitar 10-15 m di bawah permukaan laut. Kebiasaan hidupnya merayap di dasar pasir berkarang, diantara karang-karang, gua-gua karang, dan diantara rumput-rumput laut dan bunga karang. Menurut Subani (1978), lobster tidak pandai berenang, meskipun memiliki kaki renang. Lobster yang sedang merayap akan segera mundur dengan cepat dengan kekuatan otot-otot perutnya ketika berhadapan dengan dengan musuh-musuhnya yang terdiri atas ikan cucut, pari, sidat, kerapu.
            Lobster keluar dari tempat persembunyiannya pada malam hari untuk mencari makan dan beristirahat pada siang hari. Sebagian besar lobster makan setelah matahari terbenam. Demikian juga dengan puncak aktifitas lobster   di alam terjadi menjelang malam. Makanan lobster terdiri atas udang kecil, ikan, cacing, berbagai binatang lunak, dan  bangkai binatang yang telah mati. Lobster menggunakan kukunya yang lancip untuk mencengkeram mangsanya untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulut (Subani, 1978). Makanan terdeteksi oleh indera penciuman lobster dengan adanya arus yang membawa bau makanan tersebut.
Setiap jenis lobster memiliki habitat dan penyebaran yang berbeda, misalnya:
1.
P. homarus hidup di perairan dangkal sampai beberapa belas meter dan tinggal di lubang-lubang batu. Cobb and Phillips (1980) menyebutkan jenis ini toleran terhadap perairan keruh dan menyukai perairan yang bergelombang serta mengalami pergolakan. Adapun menurut Batia (1974), penyebaran lobster ini dipengaruhi oleh kekeruhan dan sifat turbulen perairan.
2.
P. penicillatus hidup di perairan dalam di luar terumbu karang, yaitu pada daerah yang menerima hempasan ombak yang keras. Cobb and Phillips (1980) menyebutkan lobster ini hidup di daerah bebatuan di luar perairan karang, yaitu di daerah terjadinya hempasan gelombang yang keras (daerah dekat tubir).
3.
P. longipes hidup di tempat yang terlindung dan menyukai perairan yang bersifat oseanik. Tinggal di dalam lubang batu karang dan pada malam hari ke tubir untuk mencari makan. Cobb and Phillips (1980) menyebutkan bahwa lobster ini ditemukan mulai dari perairan jernih (lebih dari 18 m) sampai perairan keruh  yang dangkal (kurang 1 m). Daerah yang disukai lobster ini adalah perairan dekat tubir. Menurut Batia (1974), jenis ini memiliki habitat yang luas mulai dari perairan dangkal 1-16 m hingga perairan dalam (lebih dari 130 m).
4.
P. versicolor hidup terlindung di antara karang pada kedalaman sampai beberapa meter. Menurut Cobb and Phillips (1980), jenis ini toleran terhadap arus pasang surut dan kekeruhan. Batia (1974) menyatakan bahwa pada siang hari lobster ini ditemukan pada kedalaman 6-10 m. Pada malam hari bermigrasi ke daerah pantai dengan kedalaman 1 m.
5.
P. ornatus ditemukan di perairan karang yang dangkal. Jenis ini sulit ditangkap dengan perangkap. Penangkapan umumnya dilakukan dengan penyelaman. Menurut Batia (1974), lobster jenis ini ditemukan pada kedalaman 5-20 m pada perairan yang keruh dan berarus kuat.
 Secara umum, sebaran sumberdaya lobster pada perairan Indonesia bagian barat meliputi perairan barat Sumatera, sebagian selatan Bengkulu, perairan selatan Jawa, dan selatan Bali. Adapun sebarannya di Wilayah Indonesia timur mencakup perairan timur Kalimantan, perairan Halmahera, NTT, Ambon, Sorong, Biak dan Jayapura (Ditjen Perikanan, 1992).
5. Siput
Klasifikasi Siput macan (Babylonia spirata), menurut Dance (1977), adalah:
Filum :  Moluska,
Kelas : Gastropoda,
Sub kelas : Prosobranchia,
Ordo : Neogastropoda,
Super famili : Muricoidea,
Famili :  Buccinidae,
Genus : Babylonia, dan
Spesies : Babylonia spirata L.
 Empat bagian utama badan siput macan, yaitu kepala, kaki, perut dan mantel. Dua mata, 2 tentakel, sebuah mulut dan sebuah siphon terdapat pada kepalanya. Mantel merupakan pembentuk struktur cangkang dan pola warna (Yulianda,  1999). Kaki siput macan berukuran besar dan pipih. Fungsinya untuk menyerap dan melekat. Suwignyo et. al. (1977) menyebutkan bahwa bagian cangkang keong macan yang tertua adalah apex. Posis apex berada dipuncak cangkang dan berbentuk kerucut. Sumbu kerucut disebut dengan columella. Gelung terbesar disebut body whorl dan gelung-gelung di atasnya disebut spire. Diantara bibir dalam dan gelung besar terdapat umbilicus berupa celah sempit dan dalam. 
Gastropoda umumnya hidup di permukaan dasar substrat dan menempel pada berbagai jenis substrat, seperti batu, batang atau akar pohon bakau, karang, pasir, lumpur atau menempel pada biota laut lain. Gastropoda juga memiliki kemampuan hidup dalam substrat yang lunak, yaitu hanya beberapa millimeter dari permukaan substrat. Ada sekitar 55.000 spesies gastropoda menempati habitat yang tersebar dari pantai hingga laut dalam. Sebagian besar diantaranya hidup di perairan laut dangkal (Yulianda, 1999). Menurut Nybakken (1988), habitat yang disukai gastropoda tergantung pada kondisi lingkungannya yang terlindungi oleh massa air dan ketersediaan makanannya yang berupa detritus dan makroalga. Menurut Shanmugaraj et. al. (1994), siput macan hidup pada dasar perairan bersubstrat pasir berlumpur dengan kedalaman 9-27 m Adapun menurut Yulianda et. al. (2000), habitat keong macan yang ditemukan di Palabuhanratu berupa dasar perairan yang berpasir dengan kedalaman 15-20 m.
Ruppert & Barnes (1991) menjelaskan bahwa prosobranchia adalah kelompok hewan karnivora yang menggunakan radula sebagai alat bantu makan. Radula pada prosobranchia mengalami berbagai modifikasi bentuk, antara lain berupa alat untuk memotong, memegang, mencabik dan membawa mangsa. Pola adaptasi yang biasa dijumpai pada prosobranchia karnivora berupa probosis panjang yang dipakai untuk menembus bagian tubuh mangsa yang mudah diserang.
Probosis merupakan bagian dari saluran pencernaan yang terdiri atas esophagus, buccal cavity dan radula. Probosis terletak di dalam kantung atau rongga probosis. Saat makan, probocis akan menjulur keluar dari kantung probosis karena tekanan darah. Protein khas yang dikeluarkan oleh mangsa atau daging bangkai dideteksi oleh osphradium dan pencarian lokasinya dilakukan oleh probosis. Babylonia sp. adalah jenis prosobranchia pemakan daging bangkai segar.
Sebagian besar ordo Neogastropoda, menurut Yulianda et. al. (2000), merupakan karnivor yang mempunyai cara pemangsaan yang berbeda-beda. Cara pertama adalah mangsa dideteksi dengan siphon, ditangkap oleh probosis, dan dihancurkan oleh radula yang terdapat pada bagian proboscis. Cara kedua, siput mengebor mangsa lalu menggerus dan menghisapnya dengan radula.
Share this article :

Google+ Badge

 
Didukung oleh : Karta Jaya Web | TIPS untuk Blogger | TIPS dan TRIK BLOG
Copyright © 2010. LautanBiru.com
Note : Semua artikel yang ada dalam blog ini, semata-mata hanya untuk
dibagikan buat sobat blogger yang membutuhkan
Template blog telah dimodifikasi dengan perubahan tampilan yang ada.
TERIMA KASIH atas kunjungan Anda.
Jika ada saran/kritik, silahkan kirim e-mail ke:
Kartajaya25@gmail.com atau karta.tambunan@ymail.com