Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sextan

KARTA JAYA | 10/10/2012 | 0 komentar |

Sextan adalah alat navigasi di laut yang digunakan untuk mengukur ketinggian benda-benda langit di atas cakrawala agar dapat menentukan posisi kapal. Sextant pada umumnya berbentuk segitiga dimana salah satu kakinya berupa busur. Di bawah ini merupakan gambar sextant:
Gambar Sextan

Pada dasarnya sextant terdiri dari sebuah teleskop, cermin separuh yang dilapisi perak dan sebuah lengan ayun yang memiliki cermin indeks.Untuk menentukan keakuratan suatu sextant maka dilakukan pengaturan oleh sekrup pada mikrometernya. Nilai yang terdapat pada bagian kaki sextant adalah dari 0 sampai dengan 60 derajat.
Prinsip Kerja Sextant:
  1. Sudut datang sama dengan sudut pantulan, maksudnya cahaya yang datang akan dipantulkan dengan sudut yang sama pada cermin datar.
  2. Sudut antara cahaya datang dengan sudut pantulan terakhir adalah sama dengan dua kali sudut yang ada diantara kedua cermin, hal ini terjadi bila cahaya dipantulkan dua kali pada bidang datar yang sama oleh dua buah cermin. Perhitungan Ketinggian Benda Langit Untuk memperoleh hasil pengukuran tinggi benda langit dalam menghitung posisi pengamat harus dilakukan pengkoreksian supaya untuk memperoleh sudut ketinggian yang sesungguhnya.Terdapat beberapa hasil pengukuran tinggi benda langit diatas visible horizon yaitu :
  • Observer Visible Horizon, merupakan cakrawala yang terlihat dari mata pengamat dilaut dimana seorang pengamat berada pada ketinggian mata 30 kaki diatas permukaan laut yang memiliki jarak 6.5 mil.
  • Sensible Horizon, Dimana ketinggian mata pengamat dan tegak lurus terhadap garis maya vertikal pengamat.
  • Rational Horizon, merupakan bidang paralel dengan sensible horizon dan tegak lurus terhadap garis maya yang ditarik dari pusat bumi menuju posisi pengamat.
  • Dip, sudut yang dibentuk antara visible horizon dengan sensible horizon. Dip mempunyai besaran yang merupakan penyesuaian pada posisi ketinggian mata dari permukaan air laut.
  • Sextant Altitude , adalah ketinggian suatu benda angkasa yang diukur dengan sextant oleh pengamat, besar sudutnya dibentuk antara visible horizon dengan benda angkasa
  • Observed Altitude, Sextant Altitude yang telah dilakukan pengkoreksian terhadap kemungkinan adanya index error
Pada saat melakukan pengukuran ada kemungkinan kesalahan utama yang terjadi dalam pada sextant, tetapi hal itu dapat dikoreksi. Kesalahan yang sering terjadi pada sextant yaitu :
  1. Side Error, merupakan kesalahan yang disebabkan oleh ”horizon glass” tidak benar-benar tegak lurus dengan bidang datar sextant tersebut. Bila posisi ”horizon glass” tegak lurus , maka obyek dan refleksinya akan berada pada satu garis lurus. Untuk mendeteksinya maka posisikan lengan ayun pada titik 0 dan pegang sextant secara miring, selain juga cara lain mendeteksi kesalahan tersebut adalah dengan memutar tuas micrometer secara maju mundurdisekitar angka 0 derajat sambil melihat pada benda angkasa.
  2. Perpendicularity, kesalahan ini terjadi pada bagian ”index glass/mirror” tidak benar-benar tegak lurus dengan bidang datar sextant tersebut. Kesalahan ini dapat dikoreksi dengan memutar ”sekrup pengatur” yang berada di belakang ”index glass” sampai busur tersebut nampak segaris dengan refleksinya sendiri. Untuk mendeteksinya lakukan tes dengan cara memegang sextant secara horizontal sejauh lengan kita dengan busur pada sisi jauh, kemudian geser letak lengan ayunannya sejauh kurang lebih 35 derajat, apabila pada index glass sudut yang dibentuknya kecil maka keselahan tersebut adalah perpendicularity.
  3. Error of parallelism, disebabkan karena posisi index glass dan horizon glass tidak parallel satu dengan lainnya pada saat posisi lengan ayun berada di angka 0 derajat. Cara mendeteksinya yaitu dengan cara meletakan lengan ayunan pada sudut 0 derajat, memegang sextant dengan posisi vertikal dan mengamati cakrawala. Untuk melakukan koreksi pada parallelism gunakan sekrup yang terletak paling dekat dengan bidang kerangfka sextant. Apabila horizon nyata dan refleksinya tidak berada ada dalam satu garis maka untuk melakukan pengaturan selanjutnya adalah dengan cara menggunakan sekrup kemudian lakukan pengaturan yang berada dibalik horizon glass.

Kompas

KARTA JAYA | 10/10/2012 | 0 komentar |

Kompas adalah alat navigasi untuk menentukan arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sehingga sangat membantu dalam bidang navigasi. Arah mata angin yang ditunjuknya adalah utara, selatan, timur, dan barat. Apabila digunakan bersama-sama dengan jam dan sekstan, maka kompas akan lebih akurat dalam menunjukkan arah. Alat ini membantu perkembangan perdagangan maritim dengan membuat perjalanan jauh lebih aman dan efisien dibandingkan saat manusia masih berpedoman pada kedudukan bintang untuk menentukan arah.
Penemuan bahwa jarum magnetik selalu mengarah ke utara dan selatan terjadi di Cina dan diuraikan dalam buku Loven Heng. Di abad kesembilan, orang Cina telah mengembangkan kompas berupa jarum yang mengambang dan jarum yang berputar.Pelaut Persia memperoleh kompas dari orang Cina dan kemudian memperdagangkannya. Tetapi baru pada tahun 1877 orang Inggris, William Thomson, 1st Baron Kelvin (Lord Kelvin) membuat kompas yang dapat diterima oleh semua negara. Dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang timbul dari deviasi magnetik karena meningkatnya penggunaan besi dalam arsitektur kapal.
Alat apa pun yang memiliki batang atau jarum magnetis yang bebas bergerak menunjuk arah utara magnetis dari magnetosfer sebuah planet sudah bisa dianggap sebagai kompas.
Kompas jam adalah kompas yang dilengkapi dengan jam matahari. 
Kompas variasi adalah alat khusus berstruktur rapuh yang digunakan dengan cara mengamati variasi pergerakan jarum. 
Girokompas digunakan untuk menentukan utara sejati.
Lokasi magnet di Kutub Utara selalu bergeser dari masa ke masa. Penelitian terakhir yang dilakukan oleh The Geological Survey of Canada melaporkan bahwa posisi magnet ini bergerak kira-kira 40 km per tahun ke arah barat laut.

Berikut ini adalah arah mata angin yang dapat ditentukan kompas.
• Utara (disingkat U atau N)
• Barat (disingkat B atau W)
• Timur (disingkat T atau E)
• Selatan (disingkat S)
• Barat laut (antara barat dan utara, disingkat NW)
• Timur laut (antara timur dan utara, disingkat NE)
• Barat daya (antara barat dan selatan, disingkat SW)
• Tenggara (antara timur dan selatan, disingkat SE)

Jenis kompas
Kompas dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kompas analog dan kompas digital.
Kompas analog
Kompas analog adalah kompas yang biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja kompas yang dipakai ketika acara pramuka. Sedangkan kompas digital merupakan kompas yang telah menggunakan proses digitalisasi. Dengan kata lain cara kerja kompas ini menggunakan komputerisasi.
Kompas digital
Diciptakannya kompas digital bertujuan untuk melengkapi kebutuhan robotika yang semakin canggih. Dunia robotika ini sangat membutuhkan alat navigasi yang efektif dan efisien. Sementara itu alat sistem navigasi yang tersedia di pasaran harganya mahal. Sedangkan kompas sendiri merupakan sebuah alat sistem navigasi yang efektif dengan harga lebih murah. oleh karena itu kompas digital diharapkan bisa mensubstitusi alat sistem navigasi pada robot.
Kompas-kompas digital yang ada di pasaran banyak macamnya. Di antaranya yaitu CMPS03 Magnetic Compass buatan Devantech Ltd. CMPS03 yang berukuran 4 x 4 cm ini menggunakan sensor medan magnet Philips KMZ51 yang cukup sensitif untuk mendeteksi medan magnet bumi. Kompas digital ini cukup supplai tegangan sebesar 5 Vdc dengan konsumsi arus 15mA. Pada CMPS03, arah mata angin dibagi dalam bentuk derajat yaitu : Utara (0), Timur (90), Selatan (180) dan Barat (270).
Ada dua cara untuk menperoleh informasi arah dari kompas digital ini yaitu dengan membaca sinyal PWM (Pulse Width Modulation) pada pin 4 atau dengan membaca data interface I2C pada pin 2 dan 3. Sinyal PWM adalah sebuah sinyal yang telah dimodulasi lebar pulsanya. Pada CMPS03, lebar pulsa positif merepresentasikan sudut arah. Lebar pulsa bervariasi antara 1mS (00) sampai 36.99mS (359.90). Dengan kata lain lebar pulsa berubah sebesar 100uS setiap derajatnya. Sinyal akan low selama 65mS di antara pulsa, sehingga total periodanya adalah 65mS + lebar pulsa positif (antara 66mS sampai 102mS). Pulsa tersebut dihasilkan oleh timer 16 bit di dalam prosesornya, yang memberikan resolusi 1uS.
Selain PWM, CMPS03 juga dilengkapi dengan interface I2C yang dapat digunakan untuk membaca data arah dalam bentuk data serial. Pada mode 8 bit, arah utara ditunjukkan dengan data 255 dengan resolusi 1,40625 derajat/bit. Pada mode 16 bit, arah utara ditunjukkan dengan data 65535 sehingga resolusinya menjadi 0,0055 derajat/bit.
Dari berbagai macam kompas digital di atas dapat diketahui bahwa kompas digital CMPS03 merupakan kompas digital yang paling bagus. Walaupun kompas ini paling bagus karena gambarannya bisa ditampilkan dalam layar LCD karakter, namun kompas ini tidak bisa digunakan oleh semua jenis robot. Hal ini dikarenakan setiap robot mempunyai kebutuhan atas sistem navigasi berupa kompas digital yang beda antar robot satu dengan robot lainnya. Ada kemungkinan jenis robot A membutuhkan kompas digital jenis B, dan ada kemungkinan bahwa kompas satu tidak bisa tersubstitusikan oleh kompas lainnya.

Di dunia pelayaran, Kompas sering juga disebut sebagai Pedoman.
Pembagian Pedoman berdasarkan penempatannya di kapal dibedakan atas :
1.    Pedoman Dasar
2.    Pedoman Kemudi
3.    Pedoman Pembantu (pedoman sekoci dan pedoman lainnya)

Bisa juga berdasarkan konstruksinya atau pembuatannya
1.    Pedoman piringan ringan ( Pedoman Kering )
2.    Pedoman Zat Cair( Pedoman Basah )

Kompas/Pedoman Kering
Terdiri dari :
a.    Ketel
b.    Tutu p Kaca
c.    Kaca baur
d.    Pena (semat)
e.    Ujung semat dilengkapi logam iridium
f.     Sungkup dari Aluminium
g.    Batu nilam dalam sungkup
h.    Pinggiran dari Aluminium 
i.     Benang Sutera
j.     Batang Magnit.
k.    Kertas tempat melukis surat¬surat/derajat-derajat
l.     Tempat titik putar pesawat baring
m.   Tanduk penggantung    

Piringan Pedoman Kering
Piringan pedoman terdiri dari atas beberapa jarum magnit yangdigantungkan di bawah piringan, pinggirannya dari aluminium atau bahan yang ringan. Di tengah-tengahnya piringan ditempatkan sebuah sungkup. Pada pinggir piringan dan sungkup dibuat lubang kecil-kecil untuk memasang benang-benang sutera. Diatas benang-benang yang meng-hubungkan pinggir dan sungkup dipasang kain sutera atau kertas yang tepat terbangun lingkaran, atas mana terdapat pembagian – pembagian dalam derajat dan surat (lihat gambar )

Ketel Pedoman
Bentuk bulat dan dibuat dari kuningan, diatasnya ditutup dengan kaca, pada sisi dalam dicat putih dan pada ujungnya dilukis garis hitam yang tegak yang disebut Garis Layar yang letaknya harus didalam muka yang sama dengan ujungnya semat pedoman, serta letaknya sejajar dengan lunas dan linggi kapal.
Agar ketel bergantungan lebih stabil dan dapat menahan getaran-getaran yang mempengaruhinya pada type pedoman Thomson, di bawahnya dasar kaca sebuah kaca baur yang cekung diisi dengan sejenis minyak tumbuh-tumbuhan. Ada pedoman dimana dasar ketel hanya diberi beban dengan sekeping timbel.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi :
  1. Ketel tidak boleh mengandung magnetis. Hal ini dapat diselidiki dengan jalan mengambil ketel keluar dari rumah pedoman, selanjutnya di samping ketel ditempatkan sebuah pedoman kecil. Sesudah itu ketel diputar, bilamana dalam pekerjaan ini jarum pedoman kecil tidak bergerak, ini berarti ketel tidak mengandung magnetis.
  2. Jika ketel diam tutup kaca, harus dalam keadaan mendatar. Ini dapat diselidiki dengan menggantungkan sebuat unting-unting. Lalu dilihat dari dua arah yang satu sama lain memotong siku, maka bayangan diatas tutup kaca harus terletak dalam satu garis dengan benangnya unting-unting tadi
  3. Ketel harus mudah mengayun dan tidak menyentuh dimana-mana
  4. Semat harus berdiri tepat ditengah-tengah ketel, jika tidak maka jarak antara piringan sampai pada ketel si pelbagai tempat tidak sama
  5. Ujung semat harus terletak di titik potong penggantungan    ketel pedoman pada cincin lenja dan cincin lenjapada rumah pedoman. Apabila tidak demikian halnya, maka ujung semat pedoman ketika peranatan cincin-cincin lenja berputar tidak tepat pada tempatnya. Keadaan in i akan mengakibatkan piringan tidak tenang. Untuk mengetahui hal ini tempatkan ketel sedemikian sehingga ujung semat hampir menyentuh sebuah unting-unting yang digantungkan diatas ketel. Jika sekarangperanatan lenja diputar, maka jarak antara ujung semat dan batu unting-unting tidak boleh berubah
  6. Titik putar pesawat baring harus terletak tegak lurus diatas ujung semat pedoman. Jika tidak demikian maka akan timbul sebuah salah baringan.
  7. Garis Layar harus dalam keadaan yang benar.
  8. Alat penggantungan (Cincin lenja) tempat dimana ketel didudukan dengan benar.

Kompas/Pedoman Zat Cair
Pedoman ini dibuat lebih kuat dan ketelnya diisi campuran alkohol ( 16 % s/d 25 % ) dan air sulingan ( 84.5 s/d 75 % ) yang berguna untuk meredam gerakan dan getaran yang dapat menpengaruhi pedoman. Dengan diisi alkohol maka pedoman dapat dipakai pada suhu rendah, tetapi perlu dicampur dengan air, sebab alkohol yang murni memakan cat ketel dan piringan. Oleh sebab itu cat ketel dan piringan menggunakan cat khusus.
Untuk mempertinggi tahan getaran dan goncangan serta stabilitas dari pada piringan pedoman ini, dipasang dua atau empat jarum magnet yang agak panjang dan tebal yang dimaksukan dalam bumbung yang dibuat dari kuningan dan ditempatkan di bawah piringan pedoman. Dengan demikian berat seluruh piringan 300 gram, dan untuk mencegah rusaknya ujung semat, dipasang pengapung sehingga berat di atas semat tidak lebih dari pada berat piringan pedoman kering ( 15 s/d 20 gran ) 

Sumbat (sungkup isi):
Untuk menambah air sulingan ke dalam ketel jika air ketel berkurang yang dapat diketahui dengan adanya gelembung udara di atas zat cair. Cara mengisinya ialah ketel ditahan miring, sumbat diputar keluar dan air dituangkan melalui sumbat, lalu ditutup kembali. Kadang-kadang zat cair tidak berkurang tetapi terjadi gelembung udara. Ini adalah vacum akibat zat yang sifat memuainya berlainan antara isi ketel dan ketelnya.Hal ini akan mengakibatkan terjadinya pengembunan pada kaca yang menyulitkan pembacaan. Untuk mengatasi hal ini biasanya ada pengisian secara otomatis pada kotak cadangannya.

Pengapung:
Dengan adanya jarum-jarum yang berat dan tebal, maka akan mengakibatkan rusaknya tuntung dari semat. Untuk menghindari hal ini dipasanglah pengapung.

Tromol:
Kalau suhu naik, cairan dalam ketel mengembang sehingga jika tidak ada tromol yang bergaya pegas, mungkin ketel atau tutup kaca akan rusak. Kalau suhu turun, cairan akan susut sehingga ketel tidak penuh lagi. Dengan adanya tromol yang bergaya pegas itu, maka piringan pedoman akan ikut pula turun naik dan akibatnya penunjukan arah yang salah. Untuk inilah jembatan kuningan dipasang dimana semat dipasang diatasnya.

Pemberat:
Dibuat dari timbel dan gunanya agar pedoman bergantung lebih stabil.

Echosounder

KARTA JAYA | 10/10/2012 | 0 komentar |

Pemetaan kontur tanah dalam perencanaan pembangunan sangat diperlukan. Pemetaan kontur tanah disebut juga dengan topografi. Sedangkan pemetaan kontur dasar laut disebut dengan bathymetry. Dalam pemetaan dasar laut atau Bathymetry instrumen yang biasa kita gunakan antara lain echosounder atau fishfinder. Kedua instrumen tersebut prinsip kerjanya menggunakan akustika bawah air.
Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Adapun kegunaan dasar dari echosounder yaitu menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Data tampilan juga dapat dikombinasikan dengan koordinat global berdasarkan sinyal dari satelit GPS yang ada dengan memasang antena GPS (jika fitur GPS pada echosounder ada).
Prinsip kerjanya yaitu: pada transmiter terdapat tranduser yang berfungsi untuk merubah energi listrik menjadi suara. Kemudian suara yang dihasilkan dipancarkan dengan frekuensi tertentu. Suara ini dipancarkan melalui medium air yang mempunyai kecepatan rambat sebesar, v=1500 m/s. Ketika suara ini mengenai objek, misalnya ikan maka suara ini akan dipantulkan. Sesuai dengan sifat gelombang yaitu gelombang ketika mengenai suatu penghalang dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan, maka hal yang sama pun terjadi pada gelombang ini.
Prinsip Echosounder
Ketika gelombang mengenai objek maka sebagian enarginya ada yang dipantulkan, dibiaskan ataupun diserap. Untuk gelombang yang dipantulkan energinya akan diterima oleh receiver. Besarnya energi yang diterima akan diolah dangan suatu program, kemudian akan diperoleh keluaran (output) dari program tersebut. Hasil yang diterima berasal dari pengolahan data yang diperoleh dari penentuan selang waktu antara pulsa yang dipancarkan dan pulsa yang diterima. Dari hasil ini dapat diketahui jarak dari suatu objek yang deteksi.
Cara Pemakaian :
  1. Memasang alat dan cek keadaan alat sebelum memulai pengambilan data.
  2. Pastikan kabel single beam dan display sudah terpasang.
  3. Pasang antena, jika diperlukan input satelit GPS.
  4. Masukkan single beam kedalam air.
  5. Set Skala kedalaman yang ditampilkan display.
  6. Set frekuensi yang akan digunakan 200 Hz untuk laut dangkal atau 50 Hz untuk laut dalam atau dual    untuk menggunakan keduanya.
  7. Set input data air yaitu salinitas, temperatur dan tekanan air.
  8. Pengambilan data.
  9. Pemrosesan data.
Pengolahan data:
Perhitungan kedalaman diperoleh dari setengah waktu pemantulan signal dari echosounder memantul ke dasar laut kemudian kembali ke echosounder. Nilai waktu yang diperoleh di konversikan dengan kecepatan gelombang suara di dalam air.

Untuk data kedalaman yang lebih tepat, dimasukkan pula data-data temperatur air, salinitas air dan tekanan air. Hal ini diperlukan untuk memperoleh konversi yang tepat pada cepat rambat suara di dalam air.

Berikut adalah perhitungannya :
c = 1448.6 + 4.618T2 − 0.0523 + 1.25 * (S − 35) + 0.017D

dimana :
c = kecepatan suara (m/s)
T = temperatur (degrees Celsius)
S = salinitas (pro mille)
D = kedalaman

Gelombang

KARTA JAYA | 10/10/2012 | 0 komentar |
Gelombang merupakan suatu fenomena naik-turunnya permukaan laut, dimana energinya bergerak dari suatu wilayah pembentukan gelombang ke arah pantai.  Kata gelombang umumnya digunakan untuk gelombang yang dibangkitkan oleh angin.  Gelombang yang dibangkitkan angin terbentuk di perairan dalam kemudian bergerak ke perairan dangkal yang mengalami deformasi (refraksi, difraksi, refleksi) dan pada akhirnya pecah di dekat pantai.  Parameter gelombang seperti tinggi, periode, sudut refraksi dan tipe gelombang sangat penting diketahui untuk mempelajari gelombang yang ada di laut.  Aktivitas gelombang menentukan transpor sedimen yang terjadi di pantai dan perubahan garis pantai.

Bentuk dari sebuah gelombang dan rentetan diagram yang menunjukkan gerakan partikel-partikel air yang ada di dalam gelombang. Walaupun gelombang bergerak makin maju ke depan, partikel-partikel di dalam gelombang akan meninggalkan jejak yang membentuk lingkaran. 
Jejak lingkaran yang dibuat oleh partikel-partikel akan menjadi lebih kecil sesuai dengan makin besarnya kedalaman di bawah permukaan gelombang.
Gelombang memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat dipengaruhi oleh 3 bentuk angin :

  1. Kecepatan angin, umumnya makin kencang angin bertiup maka makin besar gelombang yang terbentuk dan gelombang ini mempuyai kecepatan yang tinggi dan panjang gelombang yang besar.
  2. Ketika angin sedang bertiup, tinggi, kecepatan dan panjang gelombang seluruhnya cenderung meningkat sesuai dengan meningkatnya waktu pada saat angin pembangkit gelombang mulai bertiup.
  3. Jarak tanpa rintangan ketika angin bertiup (fetch). Fetch di lautan lebih besar daripada fetch di danau sehingga panjang gelombang yang terbentuk di lautan lebih panjang hingga mencapai ratusan meter.
Klasifikasi gelombang berdasarkan ukuran dan penyebabnya:


  1. Riak (ripples) / gelombang kapiler (capillary wave) dengan panjang gelombang 1,7 m dan periode kurang dari 0,2 detik disebabkan oleh adanya tegangan permukaan dan tiupan angin yang tidak terlalu kuat pada permukaan laut.
  2. Gelombang angin (wind waves) dengan panjang gelombang sampai kira-kira 130 m dan periode 0,2-9 detik ditimbulkan angin
  3. Alun (swell) dengan panjang gelombang sampai ratusan meter dan periode 9-15 detik ditimbulkan oleh angin yang bertiup lama
  4. Gelombang pasang surut (tidal wave) dengan panjang gelombang ribuan kilometer dengan periode 12,5 jam, 25 jam dan seterusnya oleh fluktuasi gaya gravitasi matahari dan bulan.

Pengukuran parameter gelombang dapat dilakukan secara visual maupun dengan instrumen.  Pengukuran secara visual biasanya hanya dapat dilakukan pada kondisi sesaat, biasanya alat yang digunakan adalah View Box (sudut refraksi), papan berskala (tinggi gelombang) dan stop watch untuk pengukuran periode gelombang.  Pengukuran parameter gelombang dengan instrumen wave gauge yang didasarkan pada perubahan tekanan pada kolom air yang nantinya akan dikonversi menjadi parameter tinggi dan periode gelombang.  Manfaat mempelajari gelombang adalah dalam perencanaan wilayah pantai (pelabuhan dan bangunan pantai lainnya), pariwisata (surfing), sumber energi alternatif, dan untuk budidaya perikanan (rumput laut) dsb.  
Altimetri adalah salah satu teknik untuk mengukur ketinggian gelombang laut pada koordinat tertentu. Satelit altimetry mengambil data pada waktu tertentu dengan menggunakan radar mengelilingi angkasa dari satelit antena ke permukaan laut dan dikembalikan lagi ke satelit penerima. Pada tahun 1970 altimetri mulai melakukan pengukuran data fisik, kimia, keadaan dinamis dari daratan lautan, atmosfer dan biosphere. Beberapa satelit yang telah diluncurkan oleh altimetry dianteranya adalah ERS (1991-1996), Topex atau Poseidon (sejak 1992), ERS-2 (sejak 1995), dan Jason-1. Satelit-satelit ini menyediakan data lokasi, pengumpulan data, mengukur suhu, konsentrasi klorofil dan kecepatan angin di permukaan laut. Pengamatan secara umum untuk memahami secara lebih baik dari kejadian di lautan, iklim dalam waktu yang lampau ataupun waktu yang akan datang.



Biologi Ikan Platy

KARTA JAYA | 10/10/2012 | 0 komentar |
Ikan Platy (Xiphophorus maculates) berasal dari Amerika Tengah dan Utara (Clidad Veracruz, Meksiko Utara Belize). Ukuran maksimum dari ikan Platy yaitu mencapai 5 cm. Ikan ini memiliki sifat yang ramah dan tidak agresif, oleh karena itu sangat cocok digunakan sebagai ikan hias pada aquascaping. Ikan platy dapat hidup pada pH 7,0 – 8,0, pada suhu 20 – 26 °C. ikan Platy dapat diberi pakan buatan maupun alami. Platy memiliki banyak sekali bentuk varian warna seperti dari jenis spotted, gold comet, red wag, black, blue coral, leopard, mickey mouse, dan lainnya Ikan ini sangat mudah beradaptasi dan memiliki toleransi yang baik dalam berbagai kondisi lingkungan tempat hidupnya. Platy menyukai habitat dengan banyak tanaman, karena ikan ini cenderung berenang dan berkembang biak diantara tetanaman. Ikan ini menyukai arus sedang (Anonim 2010).

Berdasarkan Marie (2010), klasifikasi ikan Platy secara lengkap adalah sebagai berikut.
Kingdom         : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cyprinodontiformes
Famili : Poeciliidae
Genus : Xiphophorus
Spesies         : Xiphophorus maculates
Pada dasarnya, ikan Platy memiliki beberapa perbedaan ciri kelamin antara jantan dan betina. Yang pertama adalah ciri primer. Ciri primer dari ikan Platy Jantan adalah ikan Platy Jantan memiliki gonopodium yang terletak di dekat sirip analnya, sedangkan ikan Platy betina tidak memiliki gonopodium (Foster dan Smith3 2011). Cirri sekunder pada ikan Platy jantan yaitu ika Platy jantan lebih kecil dibandingkan dengan betinanya. Selain itu, warna ikan Platy Sunset jantan jauh lebih mencolok dibandingkan betinanya (Foster dan Smith3 2011).

Sanitasi dan Higienis di Pelabuhan Perikanan

KARTA JAYA | 10/10/2012 | 0 komentar |

Sanitasi adalah suatu usaha untuk mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang berpengaruh kepada manusia. Sanitasi juga membantu mempertahankan lingkungan biologi sehingga polusi berkurang dan membantu melestarikan hubungan ekologi yang seimbang (Jenie, 1988 diacu dalam Faubany, 2008). Higienis secara umum menurut Johns (1991) adalah dasar dari suatu proses kebersihan. Kebersihan penting karena dapat mencegah bakteri yang timbul dari kondisi yang kotor.
Sanitasi yang baik dalam industri tidak hanya terletak pada kebersihan bahan baku, peralatan, ruangan dan pekerja tetapi juga dalam penanganan dan pembuangan limbah. Meskipun suatu industri menghasilkan produk bermutu tinggi tetapi jika cara pembuangan limbah di sekitar industri tersebut tidak ditangani dengan benar, maka akan dapat mengganggu dan merusak lingkungan hidup di sekitarnya. Begitu juga dengan pelabuhan perikanan (Liswati, 2000 diacu dalam Faubany, 2008).
Dalam pengembangan industri perikanan, pelabuhan perikanan merupakan bagian dari rantai produksi yang harus memenuhi persyaratan kelayakan dasar sanitasi dan higienis yang meliputi (Departemen Pertanian, 2002 diacu dalam Faubany, 2008): 
(1) Lokasi dan lingkungan
(2) Konstruksi bangunan
(3) Dinding, penerangan dan ventilasi 
(4) Saluran pembuangan
(5) Pasokan air dan bahan bakar 
(6) Es
(7) Penanganan limbah 
(8) Toilet
(9) Konstruksi dan pemeliharaan alat
(10) Peralatan untuk penanganan awal 
(11) Pembersihan dan sanitasi
(12) Kontrol sanitasi

Sanitasi secara umum mencakup berbagai aspek antara lain kesehatan, kebersihan dan kesimbangan lingkungan secara manajemen atau pengelolaannya. Sanitasi bertujuan untuk mencegah berbagai faktor yang menyebabkan timbulnya pencemaran bagi produk dan lingkungan.  Hasil yang diharapkan dengan dijalankannya program sanitasi di pelabuhan perikanan antara lain terciptanya lingkungan kerja yang bersih, mutu ikan yang tetap terjaga dan kebersihan para pelaku di pelabuhan perikanan. Seluruh kelayakan dasar sanitasi di pelabuhan perikanan harus dapat dipenuhi untuk memperbaiki kinerja dan operasional pelabuhan, apalagi bila pelabuhan tersebut memiliki wilayah distribusi yang luas dan kapasitasnya besar.

Penerapan Sanitasi dan Sumber-Sumber Pencemaran di Pelabuhan Perikanan
Pedoman umum yang digunakan dalam perencanaan pembangunan dan pengoperasian Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) di Pelabuhan Perikanan atau Pangkalan Pendaratan Ikan adalah sebagai berikut (Menai, 2007 diacu dalam Faubany, 2008):
1) Lokasi, konstruksi dan tata ruang 
  • Bangunan tidak berada di tempat yang merupakan daerah pembuangan sampah, pemukiman padat      penduduk atau daerah lain yang dapat menimbulkan pencemaran
  • Bebas dari timbunan barang bekas yang tidak teratur
  • Bebas dari timbunan barang sisa atau sampah
  • Bebas dari tempat persembunyian atau perkembangbiakan serangga, binatang pengerat dan binatang pengganggu lainnya
  • Sistem saluran pembuangan air (drainase) dalam keadaan baik
  • Permukaan lantai rata, kedap air, tahan bahan kimia, tidak licin dan mudah dibersihkan
  • Pertemuan antara lantai dengan dinding melengkung dan kedap air 

2) Kebersihan dan sanitasi 
  •  Lantai, wadah peralatan dan sebagainya dibersihkan dan dicuci sebelum dan sesudah dipakai dengan menggunakan air yang mengandung chlorine
  • Peralatan kebersihan (sikat, sapu, alat semprot dan lain-lain) tersedia setiap saat bila diperlukan dan jumlahnya mencukupi 
  • Tempat pendaratan dan penyimpanan ikan terpelihara kebersihannya 
  • Tempat sampah terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, tahan karat, tidak bocor, jumlahnya cukup, mempunyai tutup dan ditempatkan pada tempat yang sesuai
  • Setiap orang yang memasuki TPI harus mencuci tangan dan kaki (sepatu) dengan mencelupkannya ke dalam bak berisi air yang mengandung chlorine
  • Tidak semua orang kecuali yang berkepentingan dapat masuk ke dalam TPI

Sumber pencemar (polutan) dapat berasal dari suatu lokasi tertentu (point source) atau tak tentu/tersebar (non-point/diffuse source). Pencemar yang berasal dari point source bersifat lokal. Efek yang ditimbulkan dapat ditentukan berdasarkan karakteristik spasial kualitas air. Volume pencemar dari point source biasanya tetap. Sumber pencemar non-point source dapat berupa point source dalam jumlah yang banyak, misalnya limpasan dari daerah pertanian yang mengandung pestisida dan pupuk, limpasan dari daerah pemukiman (domestik) dan daerah perkotaan (Effendi, 2003 diacu dalam Faubany, 2008). 
Menurut Effendi (2003), bahan pencemar (polutan) adalah bahan-bahan yang bersifat asing bagi alam atau bahan yang berasal dari alam itu sendiri yang memasuki tatanan ekosistem sehingga mengganggu peruntukan ekosistem tersebut. Berdasarkan cara masuknya ke dalam lingkungan, polutan dikelompokkan menjadi dua, yaitu polutan alamiah dan antropogenik. Polutan alamiah adalah polutan yang memasuki suatu lingkungan secara alami. Adapun polutan antropogenik adalah polutan yang masuk ke badan air akibat aktivitas manusia. 
Sumber-sumber pencemaran di pelabuhan perikanan pada umumnya berasal dari aktivitas manusia, seperti sampah sisa pembongkaran dan pelelangan ikan serta limbah dari industri pengolahan dan kapal-kapal yang berlabuh yang mencemari saluran drainase dan kolam pelabuhan. Ravikumar (1993) diacu dalam Faubany, (2008), menyebutkan bahwa sampah merupakan benda yang tidak terpakai, tidak diinginkan dan dibuang, sedangkan limbah adalah sampah yang sudah mencemari. Berdasarkan bentuk dan cara penanganannya, sampah dibagi menjadi: 
(1) Sampah padat 
(2) Sampah cair/air buangan 
(3) Sampah gas dan partikel di udara 
(4) Kotoran manusia
(5) Kotoran hewan
(6) Sampah berbahaya 
Berdasarkan komposisi kimia, sifat mengurai dan mudah tidaknya terbakar, sampah dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik; degradable dan non-degradable serta combustible dan non-combustible. 
Limbah adalah campuran yang kompleks, terdiri atas mineral dan bahan-bahan organik dalam berbagai bentuk, besar maupun kecil yang terapung dalam bentuk suspensi atau larutan. Limbah selalu terjadi selama proses panen dan pengolahan serta saat pemasaran. Air limbah (waste water) adalah kotoran dari masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air permukaan serta air buangan lainnya. Air limbah ini merupakan hal yang bersifat kotoran umum (Sugiharto, 2005). Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat fisik yang mudah terlihat. Sifat fisik yang penting ialah kandungan zat padat sebagai estetika yaitu kejernihan, bau dan warna serta temperatur (Widodo, 2001).



Menguak Sejarah Peradaban Nusantara

KARTA JAYA | 6/25/2012 | 0 komentar |
Indonesia adalah  negara maritim dengn mempunyai kekayaan alam yang sangat luar biasa. Inilah yang menjadi aset negara yang tidaka ada tandingannya. Jika kita melihat potensi alam yang ada di perairan Nusasantara, rasanya tidak  tidak cukup waktu untuk menghitungnya. Bukan hanya potensi alam yang ada di perairan, demikian juga halnya dengan beragamnya budaya yang ada di belahan Nusantara ini.  Hal inilah yang sering tidak kita sadari sebagai anak-anak bangsa. betapa kayanya negri ini. Sehingga secara tidak langsung cinta akan budaya negri ini perlahan-lahan akan terkikis dengan masuknya budaya-budaya luar dengan bebasnya ke dalam Negeri ini.

Pada tulisan kali ini saya akan mencoba menguak sejarah peradaban negri ini, bahwa sejatinya bangsa ini adalah bangsa pelaut (negara maritim) sejak dahulu kala. Sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia sudah dikenal dunia sebagai bangsa maritim yang memiliki peradaban yang sangat maju. Bahkan bangsa ini pernah mengalami masa keemasan sejak awal Masehi. Menggunakan kapal bercadik, nenek moyang kita berlayar mengelilingi dunia dan menjadi bangsa yang disegani. Dengan fakta yang dapat menjelaskan bahwa dengan bekal alat navigasi seadanya bangsa ini mampu berlayar ke utara, memotong laut Hindia Madagaskar, dan berlajut ke timur hingga pulau Paskah. Seiring dengan berjalannya waktu, alur pengangkutan komoditas pedagang melalui rame dengan memanfaatkan transfortasi laut yang akhirnya mendororng kerajaan-kerajaan di Nusantara memiliki armada yang besar.

Pada masa kejayaannya, Nusantara adalah negara maritim yang sangat disegani di Asia Tenggara, Sriwijaya (683-1030 M) telah mendasarkan politik kerajaan pada penguasaan alur pelayaran dan jalur perdagangan, serta menguasai wilayah-wilayah strategis yang digunakan sebagai pangkalan kekuatan laut. Tidak hanya Sriwijaya, ketangguhan maritim juga ditunjukkan Singasari di bawah pemerintahan Kertanegara pada abad ke-13. Dengan ketangguhan armada laut, Kertanegara mengirim ekspedisi bahari pada 1275 ke kerajaan Melayu dan Campa untuk menjadikan persahabatan dalam menghambat gerak kerajaan Mongol ke Asia Tenggara. Pada tahun 1284, mereka menaklukkan Bali dengan ekspedisi laut ke Timur.

Puncak kejayaan maritim Nusantara terjadi pada masa kerajaan Majapahit (1293-1478) di bawah kepemimpinan Raden Wijaya, Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada. Majapahit berhasil menguasai dan mempersatukan NUsantara, bahkan pengaruhnya sampai ke Negara asing seperti Siam, Ayuthia, Lagor, Campa (kamboja), Anam, India, Filipina dan China.

Sekilas sejarah di atas menggambarkan bahwa peradaban bangsa ini sangat maju dulunya. Nusantara yang mempunyai kerajaan-kerajaan besar dan disegani negara lain. Paradigma masyarakatnya mampu menciptakan visi  maritim sebagai bagian utama dari kemajuan politik, budaya, ekonomi, dan sosial.

Pertanian adalah Jantung Negeri Ini

KARTA JAYA | 6/23/2012 | 0 komentar |
Tidak asing lagi di telinga jika negeri ini dikatakan sebagai negara agraris yang mempunyai kekayaan alam yang sangat luar biasa. Kekayaan alam ini didukung oleh luasnya daratan serta perairan yang Indonesia miliki. Jika dibandingkan dengan luas wilayah negara tetangga kita, wilayah pertanian kita sebenarnya jauh lebih luas dari wilayah pertanian mereka. Tetapi lihat saja apa yang kerap terjadi akhir-akhir ini dengan sektor pertanian kita. Sebenarnya sektor pertanian kita tidak buruk-buruk amat dalam pengoptimalisasiannya, akan tetapi masih ada kekurangan di sana sini yang mengakibatkan sektor pertanian kita kurang optimal di dalam berbagai subsektornya.

Jika kita berangkat dari defenisi pertanian secara luas, maka pertanian ini dapat diartikan sebagai suatu sektor yang mengelola produk tumbuhan, hewan, ikan, serta mengelola lingkungan sekitar supaya menghasilkan output yang bermanfaat bagi manusia. Nah, dari defenisi di atas bisa kita simpulkan bahwa pertanian itu bukan hanya mencakup tanam-tanaman saja, akan tetapi pertanian yang sejatinya adalah seperti yang dijelaskan di atas. Hal inilah salah satu pemicu banyaknya anak-anak muda sekarang kurang tertarik dengan dunia pertanian. Karena yang ada dalam pikiran mereka teantang pertanian adalah bertani, turun ke sawah, bercocok tanam (berkebun), dan lain sebagainya. Padahal sebenarnya paradigma tersebut benar-benar salah. Sehingga dalam konteks masalah ini, generasi muda sekarang perlu disadarkan akan paradigma yang salah tadi.

Untuk merubah paradigma yang salah tadi, perlu adanya langkah-langkah konkrit dari pihak pemerintah maupun masyarakat secara umum untuk terjun langsung ke lapangan. Terjun langsung ke lapangan di sini maksudnya adalah memberikan penjelasan atau gambaran pertanian Indonesia kepada masyarakat dan generasi muda secara khususnya. Bila penting, pengenalan akan dunia pertanian ini secara langsung dilakukan  kepada anak-anak di usia dini. Mungkin susah untuk ditangkap oleh anak-anak usia dini. Tetapi saya yakin dengan cara perlahan-lahan kepada anak-anak, pengenalan dan menumbuhkan rasa cinta akan dunia pertanian ini akan berhasil.

Kenapa mesti memperkenalkan dan menumbuhkan rasa cinta dunia pertanian kepada anak usia dini? Mungkin akan banyak orang bertanya akan hal ini, khususnya dari pihak si anaknya juga akan menanyakan hal yang sama. Mau tidak mau pertanian harus diperkenalkan kepada mereka (generasi masa depan), karena pertanian adalah jantung daripada Negeri ini. Tanpa pertanian, negeri ini akan kelaparan dan bukan berarti sektor yang lainnya tidak penting yah !!. Jika kita tidak bisa turun langsung kelapangan untuk menyampaikan langsung seperti apa pertanian Indonesia itu, ayo kita berikan kontribusi lewat dunia maya. Jika sobat blogger mempunyai account situs sosial, ayo kita posting tulisan yang berbau dengan pertanian. Karena pertanian adalah jantung daripada bangsa ini.
MAJULAH PERTANIANKU. MAJULAH BANGSAKU.



By: Karta Jaya H Tambunan.

Potret Masyarakat Pesisir

KARTA JAYA | 5/09/2012 | 0 komentar |
Masyarakat miskin di pesisir yang jumlahnya mencapai 7,8 juta jiwa tersebar di 10 ribu desa pesisir yang sangat tertinggal, baik dari sekor ekonomi, pendidikan, maupun sektor yang lain. Hal ini menandakan bahwa paradigma untuk membangun daerah pesisir masih rendah di kalangan kita-kita. Fakta sosial yang juga mewarnai kehidupan masyarakat pesisir adalah adanya struktur sosial yang sangat terikat dengan toke (tengkulak) atau dalam arti harfiah orang yang mempunyai modal. Dengan adanya hubungan nelayan dengan tengkulak ini akan mengakibatkan banyak kesenjangan yang terjadi dalam kehidupan sosial nelayan yang ada di desa pesisir. Salah satu masalah yang timbula yang sangat nyata terjadi di lapangan adalah, pendapatan nelayan secara perlahan akan mengalami penurunan. Kenapa?. Secara mau tidak mau nelayan harus menjual hasil tangkapan melaut mereka kepada tengkulak yang meminjamkan modal kepada nelayan tersebut. Pada kenyataannya harga ikan yang ditawarkan oleh tengkulak jauh berbeda dengan harga pasaran ikan. Ini merupakan salah satu kesenjangan yang terjadi akibat terjadinya hubungan nelayan dengan tengkulak. 

Kehidupan nelayan memang sangat rentan dengan ekonomi. Terlebih ketika mereka semata-mata bergantung pada hasil tangkapan ikan di laut. Ketika laut semakin sulit memberikan hasil yang maksimal, maka hal ini merupakan salah satu ancaman bagi keberlangsungan kehidupan ekonomi pada masa-masa selanjutnya. Rentannya kehidupan nelayan ini bukan hanya menyangkut aset kebendaan atau materi saja, akan tetapi ketidakmampuan nelayan untuk mengelola keuangan mereka adalah salah satu pemicu masalah kemiskinan nelayan di sekitar pesisir. Potret rumah tangga nelayan biasanya diwarnai oleh pola gaya hidup yang belum sepenuhnya berorientasi pada masa depan. 

Berbagai bentuk bantuan yang diberikan pemerintah ternyata belum sepenuhnya mampu memjawab persoalan yang sedang terjadi dalam kehidupan nelayan tradisional ini. Banyak bantuan yang akhirnya memapankan segelintir orang yang pada akhirnya melahirkan toke (tengkulak) baru di tengah-tengah kominutas nelayan. Bantuan tersebut pun banyakan bersifat karitatif, tidak membangun kesadaran nelayan pada komunitas nelayang tersebut. Sehingga yang terjadi adalah bantuan tersebut ibara memberikan ikan, bukan memberikan pancing. 

Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Sudirman Saad menyatakan bahwa kondisi masyarakan pesisir saat ini sangat memprihatinkan. “Realitanya ada empat persoalan pokok, tingginya tingkat kemiskinan, tingginya kerusakan sumber daya persisir, rendahnya kenadirian organisasi sosial desa, dan yang terakhir rendahnya infrastruktur desan dan kesehatan lingkungan pemukiman.” Ujar Sudirman.

Tercatat pada tahun 2010 angka kemiskinan di 10.639 desa pesisir mencapai 7,8 juta jiwa yang terdapat 10.639 desa pesisir. Atas dasar realita tersebut, Dirjen KP3K menginisiasi suatu program inovatif untuk memberi spirit bagi kenajuan desa pesisir yaitu Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT). Sasaran dari PDPT ini adalah 6.639 desa pesisir, 16 cluster desa dengan kriteria mempunyai potensi lokal unggul, mempunyai kondisi lingkungan pemukiman kumuh, terjadi degradasi lingkungan pemukiman kumuh, rawan bencana dan perubahan iklim." tambah Sudirman. Sebagai pendukung kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan, program PDPT merupakan benteng ekologis dalam mengurangi resiko bencana dan dampak perubahan iklim, penguatan desa-desa pesisir terluar yang menjadi basis geopolitik untuk ketahanan nasional, dan penguatan identitas bahari berdasarkan nilai-nilai budaya lokal.

ABALONE dan BINTANG ULAR (Ophiuroidea)

KARTA JAYA | 3/16/2012 | 0 komentar |
Abalon
Abalon (berasal dari bahasa Spanyol, Abulón) ialah suatu spesies kerang-kerangan (moluska) dari familia Haliotidae dan genus Haliotis. Ia dikenal pula sebagai kerang mata tujuh atau siput balik batu, ormer di Jersey dan Guernsey, perlemoen di Afrika Selatan, dan pāua di Selandia Baru.
Abalon tergolong dalam kelas Gastropoda yang besar. Terdapat hanya satu genus dalam famili Haliotidae dan kira-kira 4 - 7 subgenus. Taksonominya agak membingungkan. Spesiesnya berjumlah antara kira-kira 100 hingga 130 (karena adanya hibrida).
Abalon memiliki ciri-ciri permukaan kulit sebelah dalam yang berwarna-warni yang terbuat dari nakre. Daging moluska ini dianggap sebagai salah satu makanan istimewa di sebagian Amerika Latin (khususnya Chili), Asia Tenggara, dan Asia Timur (khususnya di Republik Rakyat Cina, Jepang, dan Korea).

Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Upakelas:
Superordo:
Ordo:
Superfamili:
Famili:
Haliotidae
Rafinesque, 1815
Genus:
Haliotis
Linnaeus, 1758
 Kerang Abalone biasa ditemukan pada daerah yang berkarang yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat menempel. Kerang abalone bergerak dan berpindah tempat dengan menggunakan satu organ yaitu kaki. Gerakan kaki yang sangat lambat sangat memudahkan predator untuk memangsanya. Pada siang hari atau suasana terang, kerang abalone lebih cenderung bersembunyi di karang-karang dan pada suasana malam atau gelap lebih aktif melakukan gerakan berpindah tempat. Ditinjau dari segi perairan, kehidupan kerang abalone sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Secara umum, spesies kerang abalone mempunyai toleransi terhadap suhu air yang berbeda-beda, contoh; H. kamtschatkana dapat hidup dalam air yang lebih dingin sedangkan H. asinina dapat hidup dalam air bersuhu tinggi (300C).
Penyebaran kerang abalone sangat terbatas. Tidak semua pantai yang berkarang terdapat kerang abalone. Secara umum, kerang abalone tidak ditemukan di daerah estuaria yaitu pertemuan air laut dan tawar yang biasa terjadi di muara sungai. Ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adanya air tawar sehingga fluktuasi salinitas yang sering terjadi, tingkat kekeruhan air yang lebih tinggi dan kemungkinan juga karena konsentrasi oksigen yang rendah. Kerang abalone merpakan hewan herbivore, yaitu hewan pemakan tumbuh-tumbuhan dan aktif makan pada suasana gelap. Jenis makanannya adalah seaweed yang biasa disebut makro alga. Jenis seaweed/makro alga yang tumbuh dilaut sangat beraneka ragam. Secara garis besar ada 3 golongan seaweed/makro alga yang hidup di laut, yaitu; 1) makro alga merah (Red seaweeds), 2) alga coklat (Brown seaweeds), dan 3) alga hijau (Green seaweed). Ketiga golongan tersebut terbagi atas beberapa jenis dan beraneka ragam. Keragaman tersebut tidak semuanya dapat dimanfaatkan kerang abalone sebagai makanannya.
Spesies:
Haliotis australis, Haliotis ancile, Haliotis aquatilis, Haliotis asinina, Haliotis barbouri, Haliotis brazieri, Haliotis clathrata, Haliotis coccoradiata, Haliotis sorenseni, Haliotis conicopora, Haliotis corrugata, Haliotis cracherodii, Haliotis crebrisculpta, Haliotis crebrisculpta, Haliotis cyclobates, Haliotis dalli, Haliotis discus, Haliotis dissona, Haliotis diversicolor supertexta, Haliotis diversicolor, Haliotis dohrniana, Haliotis elegans, Haliotis emmae, Haliotis ethologus, Haliotis exigua, Haliotis fatui, Haliotis fulgens, Haliotis gigantea, Haliotis glabra, Haliotis hargravesi, Haliotis howensis, Haliotis iris, Haliotis jacnensis, Haliotis kamschatkana, Haliotis kamtschatkana assimilis, Haliotis kamtschatkana kamtschatkana, Haliotis laevigata, Haliotis madaka, Haliotis mariae, Haliotis melculus, Haliotis midae, Haliotis multiperforata, Haliotis ovina, Haliotis corrugata.


Ophiuroidea
Bintang ular adalah hewan dari filum Echinodermata, yang memiliki hubungan dekat dengan bintang laut. Mereka berjalan di dasar laut dengan menggunakan lengan fleksibel mereka untuk bergerak. Bintang ular umumnya memiliki lima lengan berbentuk seperti cambuk yang panjangnya bisa mencapai 60 cm (2 kaki) pada spesimen terbesar. Ada sekitar 1.500 spesies bintang ular yang hidup sekarang, dan mereka kebanyakan ditemukan pada kedalaman lebih dari 500 meter (1.620 kaki).
Bintang ular dapat ditemukan pada perairan besar, dari kutub sampai tropis. Berdasarkan fakta, lili laut, teripang, dan bintang ular merajai dasar laut pada kedalaman lebih dari 500 meter, di seluruh dunia. Basket star biasanya terdapat di wilayah yang lebih dalam.

Seperti echinodermata lainnya, Ophiuroidea memiliki rangka dari kalsium karbonat. Bentuk tubuh bintang ular mirip dengan Asteroidea. Kelima lengan ophiuroidea menempel pada cakram pusat yang disebut calyx.Ophiuroidea memiliki lima rahang. Di belakang rahang ada kerongkongan pendek dan perut besar, serta buntu yang menempati setengah cakram. Ophiuroidea tidak memiliki usus maupun anus. Pencernaan terjadi di perut. Pertukaran udara dan ekskresi terjadi pada kantong yang disebut bursae. Umumnya ada 10 bursae.Kelamin terpisah pada kebanyakan spesies. Ophiuroidea memiliki gonad. Gamet disebar oleh bursal sacs. Sistem saraf terdiri atas cincin saraf utama yang bekerja di sekitar cakram utama. Ophiuroidea tidak memiliki mata, atau sejenisnya. Tetapi, mereka memiliki kemampuan untuk merasakan cahaya melalui reseptor pada epidermis. Baik Ophiurida maupun Euryalida memiliki lima lengan yang panjang, langsing, fleksibel, dan berbentuk seperti cambuk. Mereka dibantu dengan rangka internal yang terbuat dari kalsium karbonat.Pembuluh dari sistem vaskular air berakhir di kaki tabung. Sistem vaskular air umumnya memiliki satu madreporit. Kaki tabung tidak memiliki penghisap dan ampulla.Ophiuroidea memiliki kemampuan untuk meregenerasi kaki yang putus. Ophiuroidea menggunakan kemampuan ini untuk melarikan diri dari predator, seperti kadal, yang mampu memutuskan ekor mereka untuk membingungkan pengganggu.
Bintang ular menggunakan lengan mereka untuk bergerak. Mereka, tidak seperti bintang laut, bergantung pada kaki tabung. Bintang laut bergerak dengan menggerakan lengan mereka yang sangat fleksibel dan membuat mereka bergerak seperti ular. Pergerakan mereka mirip dengan hewan simetri bilateral.
Pernapasan dilakukan oleh 5 pasang kantong kecil yang bercelah di sekitar mulut, alat ini berhubungan dengan saluran alat reproduksi (gonad).
Alat-alat pencernaan makanan terdapat dalam bola cakram, dimulai dari mulut yang terletak di pusat tubuh kemudian lambung yang berbentuk kantong. Hewan ini tidak memiliki anus. Di sekeliling mulut terdapat rahang yang berupa 5 kelompok lempeng kapur.Makanan dipegang dengan satu atau lebih lengannya, kemudian dihentakkan dan dengan bantuan tentakel dimasukkan ke mulut. Sesudah dicerna, bahan-bahan yang tidak tercerna dibuang ke luar melalui mulutnya.
Jenis kelamin hewan ini terpisah. Hewan ini melepaskan sel kelamin ke air dan hasil pembuahannya akan tumbuh menjadi larva mikroskopis yang lengannya bersillia, disebut pluteus. Pleteus kemudian mengalami metamorfosis menjadi bentuk seperti bintang laut dan akhirnya menjadi bintang ular.

History of Ichthyology

KARTA JAYA | 3/16/2012 | 0 komentar |
INTRODUCTION
The Holy Bible is the first book that declared Adam as the first person to name species. However since this web site is dealing with recorded scientific information we must forego the theological path and instead focus on Man's ichthyologic method record. The sciences essentially began in Europe and later works in the New World were to advance European sciences. For practical purposes, science is still relatively young in the Americas. Many overlooked works can be found in manuscripts by Christopher Columbus who wrote about the fauna he saw in the New World or the Egyptians who catalogued their fishes on pyramid walls. Even Leif Ericsson's explorations which predated Columbus had mention of fishes that later scientist's would "discover." But even with this knowledge of history, we mustn't overlook the aborigines who themselves named species. Some of which bear the native name in the species binomen.
The beginning of taxonomy can be probably traced to John Ray (1628-1705). Ray introduced the complex grouping system and greatly improved the language description. Ray used the genus and species method of naming organisms. Prior to that the Greeks and Romans, notably Aristotle (384-322 B.C.) is credited with starting taxonomy having an accurate knowledge of fish anatomy and able to correctly distinguish aquatic mammals or cetaceans. But it was the work of the next author that drew the most praise and credit.
Karl Linnaeus (1707-1778) brought sharp focus to the method used today. Linnaeus (see picture at left) is considered by all as the "father" of taxonomy. It was his work that was massive in its undertaking, surpassing all before him including Ray. Linnaeus created a system of keys for naming species that were simple to use. This enabled many to use the method to identify organism's themselves. Linnaeus first classification of nature (minerals, plants and animals) appeared in 1735 and was immediately accepted by his peers. He grew in stature and reputation throughout the world. Later, he would establish a school (University of Upsala) in Sweden, which became the center of taxonomony which students from all over the world came. He called his work Systema Naturae. This work was in its 13th edition when Linnaeus died in 1778, this work however was carried over through more editions by his students for the next 50 years. Modifications took place over time following the method first established by Ray. By the 10th edition the list of names and species became shorter and shorter to its abbreviated form. Linnaeus suggested that it was sufficient it if merely identified the species among those of the genus. This simple answer established the binominal system of nomenclature.
Linnaeus further gave names to groups larger than the genus, establishing the class (similar to what Aristotle had established). The first was called CLASSES and each was divided into ORDERS, which then were broken down further to genera and species. By 1800 other workers introduced FAMILY as a category between ORDER and the genus. Finally, the classes were grouped into higher categories called PHYLA.
The 10th edition of Systema Naturae is the first publication to adhere strictly to binominal nomenclature, one of the International Rules states that no name published prior to this is valid. Hence, the 4,236 descriptions in this book include the earliest species are considered and accepted as official. The International Rules of Zoological Nomenclature require that whenever a new species is discovered and described the name of the designated species must be called a Holotype on which the species is based. Other species used in describing the new species become paratypes, and the data collected from them is included in the description. It is customary for ichthyologists to give the designated type to (country of origin) museums for permanent preservation. This then can be reviewed and used for research by professional ichthyologists and students who are qualified.
But problems would begin to surface that would lead to more changes and a new burst of interest in this work. The 19th century saw rise of a period called "romanticism" and a philosopher by the name of Johann Wolfgang von Goethe paved the way in city-state of Weimar in Germany. He was a poet and a biologist among other things. His belief in harmony and the inherent goodness of nature started a new trend which was called "nature-philosophy" as a method understanding life. This however did not last long as the generation began to mature more. Georges Cuvier was a biologist in France (survived not only the French Revolution but Napoleon too) and extended single-handedly a new method of classification called comparative anatomy. By reconstructing bones of extinct animals (fossils) he began the laborious task of naming them. This resurgence however did not last long even though Cuvier work uncovered many things that were once considered distinct. The concept of evolution was not accepted nor popular at the time and Cuvier et al., were vehemently opposed to it. The thought of those days was that all creatures were created just as they were. The original method of Linnaeus had not been realized yet and taxonomy declined after 1832.
Charles Darwin entered the arena in 1858 and by that time taxonomy was facing its worst crises, lack of interest by scientists. When Darwin presented his ideas and arguments about evolution eyes perked up and now a newer method was being devised. In Cuvier's time evolution would have been unthinkable and unscientific. Even by today's standards Darwinism as it was known then postulated that man descended from a common ancestor, the ape. This was met with much controversy even court action to prevent schools to teach was is now called "Evolution." Darwin was able to postulate the "why" of a species where before it could never be asked. This allowed a species to be better defined as an evolutionary unit, as well as a taxonomic category.
Ichthyology
Ichthyology which is the focus of this OPEFE website was confronted with many inadequate descriptions and figures of fishes printed during the over 200 years since records were first kept. The first original observations may be attributed to Pierre Belon (1517-1575) in De aquatilibus libri duo; Hyppolyto Salviana (1514-1572) in Aquatilium animalium histoae...; and Gulielmus Rondelet (1507-1566) in libri de piscibus marinis, whose works are almost entirely limited to Mediterrean and European fishes.The next century, Guilielmus Piso (1611-1678) and George Marcgrav (1610-1644) accompanied Prince Moritz of Nassau (1604-1679) to Brazil in 1637-1644 approximately 100 species of fish. It was about this time John Ray (see above) and Francis Willoughby (1635-1672) and ichthyology flourished.
A Swede by the name of Peter Artedi (1705-1735) surfaced from the University of Uppsala, Sweden. His earliest investigation were more important than others before him. There are those who consider him the father of ichthyology. In 1728 Karl (Latinized as Carolus) Linnaeus visited this university. Linneaus inquired as to who was engaged in the study of natural history and he was then referred to Artedi. That is how they met and became friends. Each helping the other not only in personal money needs but even making an agreement that the survivor would publish the works of the one deceased. Artedi drowned in 1735 in Holland. Linnaeus true to his word published Artedi Ichthyologia in 1738. Artedi method was that he believed that a genus represented a group of species which agreed with each other in general but which differed in minor characters. Having established the generic concept, Artedi proceeded to group the genera into "maniples." This is the same family concept used today. The maniples were arranged into natural orders, and these into a class, representing the whole group of fishes. In all Artedi recognized 47 genera and 230 species. The only weakness in this rating was below the genus. He retained the polynomial scheme of nomenclature. There is no doubt Artedi greatly influenced Linnaeus.
Many more ichthyologic works would follow Artedi and Linnaeus. Some of those names include, Otto Fabricus (1744-1822), Petrus Forskål (1736-1763), Petrus Pallas (1741-1811), Antione Risso (1777-1845), Thomas Pennant (1726-1798), Wlhelm G. Tilesius (1769-1857), Georg Wilhelm Steller (1709-1746). Constantine Samuel Rafinesque (1783-1840), had the dubious distinction of having described and published non-existent animals. This as a result of a friend suggesting the famed bird painter Audobon meet Rafinesque since both shared a passion for natural history. This was during the summer and Rafinesque having impressed Audobon with his knowledge of natural history was invited to spend the night in Audobon's cabin. During the night, Audobon awoke to a commotion in the naturalist room. To his astonishment he saw his guest, running naked, holding the handle of Audobon's favorite Cremona (a violin), the body of which was battered to pieces in attempting to kill bats for examination. Audobon as earlier stated was a noted artist and famous for painting birds. He used this skill to create non-existent animals by placing the head of one and then painting onto the body of another. Perhaps revenge in his heart Audobon gave these paintings to Rafinesque and the naturalist immediately set out in describing these new species. Ten of these were actually published in Ichthyologia Ohiensis.
Marc Elieser Bloch (1723-1799), Bernhard G.E. Lacepède (1756-1825), Georges L. C. F.D. Cuvier (1769-1832) and Achille Valenciennes (1794-1865). The first ichthyologist to publish an actual description can be traced to an American named LeSueur (1821). The species described was Mollinesia latipinna, commonly called the sail-fin Mollie. In those days there was a lot of carelessness in describing and naming new species. Many of the plates used as illustrations contained many errors in spelling, etc. Because the egregious mistake in spelling of Mollinesia was in dispute (the plate illustration had the name misspelled as Molinesia) it took three ichthyologist in the future to investigate and correct the nomenclature error.
The last attempt to write a series of volumes on the fishes of the world was by Albert C.L.G. Günther (1830-1914). This work was entitled Catalogue of the Fishes of the British Museum. It was published in eight volumes from 1859-1870. To many species were being discovered and the task became more complicated. More work than one person could accomplish. The local fauna was by and large greater than what was once thought and could not be worked into the treatise on fishes of the world. The next serious attempt was made by Johann Baptis von Spix (1781-1826) and Louis Aggassiz (1807-1873). This work pertained to Brazilian local fauna and related fishes. Johann Müller (1801-1858) and Friedrich G. J. Henle (1807-1885) produced the first authoritative work on sharks (Systematische Beschriebungen der Plagiostomen) in 1841. Peter Bleeker (1819-1878) published 500 separate contributions, chiefly on the fishes of the tropical Indo-Pacific. His book which was not only fully illustrated, it was one of the best 9 volumes from previous works of other authors. The book name is Atlas Ichthyologique des Indes Orientales Néerlandaises, 1862-1877. The literature from that work is the most accurate and comparable to many literature found today.
Cuba also had a notable ichthyologist by the name of Felipe Poey y Aloy (1799-1891). He labored for over a 50 years on the local fish and fauna. Japan also produced other ichthyologic works by Coenraad Jacob Temminck (1770-1858) and Herman Schlegel (1804-1844). Their work catalogued the fauna and fishes of the Japanese island. There were other ichthyologists from other lands (way to many to list here), but some other notable ones include; Franz Steindachner (1834-1919), George Boulenger (1858-1937), Robert Collett (1842-1913), Carlos Berg (1843-1902), Francis Day (1829-1889), and Leon Louis Vaillant (1834-1915).
American Ichthyology is dated from the feeble beginnings of Rafinesque and from Samuel Latham Mitchill (1764-1831). His work pertained to the treatise on the fishes of New York. Shortly after that Charles Alexander LeSueur (1778-1846) reported on the Great Lakes and Ohio basin. He was an artist and naturalist. Other American ichthyologist surfaced during that period; Jared Potter Kirtland (1793-1877) on Ohio fishes; James Ellsworth DeKay (1792-1851) on the New York fauna; John Richardson (1787-1865), published Fauna boreali-Americana in 1836. Massachusetts also produced an ichthyologist named David Humphreys Storer (1804-1891) who focused his work on the fishes from that state. South Carolina fishes were examined and written about by John Edwards Holbrook (1796-1871).
In 1846, The Smithsonian Institution was created in the city of Washington, D. C. This institution was under the direction of the United States government. This gave a permanent residence to the United States National Museum where specimens could stored and later reviewed by people interested in North American fauna and the fauna found in the world. The U.S. National Museum, Division of Fishes is so large that very little space is available for its multitude of specimen jars exceeding 300,000. This collection belongs to the people of the United States and is available only those students qualified in ichthyologic studies. This collection is very similar to a book library where the student can research past observations and record new ones. The institution is assisted by the U.S. Fish and Wildlife Commission who has a history of systematic ichthyologic leadership in investigations over a century old. Noteworthy contributions can be traced to G. Brown Goode (1851-1896) and his Oceanic Ichthyology; David Starr Jordan (1851-1931) in collaboration with Charles Henry Gilbert (1859-1928) and Barton Warren Evermann (1853-1932) were responsible for publishing over 100 citations on American fishes. Henry W. Fowler (1878-?), Academy of National Sciences in Philadelphia, did many citations on Philippine collections using his on ship called Albatross. Furthermore, Fowler in 1945 and Bailey & Miller in 1950 examined the work by LeSeur amended the name to Mollienesia which closely followed the name of the man it was supposed to honor, LeSueur. This was the first time an examination of ichthyologic review was ever done in order to correct an egregious error in a citation. A volume of fishes in Peru was provided by Samuel Frederick Hildebrand (1883-1949) and that on freshwater fishes of Thailand (then Siam) by Hugh McCormick Smith (1865-1941).
Louis Agassiz (1807-1873) in 1850 wrote a monograph on the fishes of Lake Superior and trained one of his students, Charles Frederic Girard (1822-1895), in ichthyology. Many fish collections and preservations were completed during the United States Pacific Railway surveys which were brought back to Washington. Here Spencer Fullerton Baird (1823-1887) published the survey fauna (mostly from the Western United States) with the assistance of Girard. Baird was one of the secretaries to the Smithsonian Institution during this time. Also engaged in these earlier explorations were James Wood Milner (1841-1879), Marshall McDonald (1835-1895), William O. Ayers (1817-1891), William Neale Lockington (184?-1902), and George Suckley (1830-1869) among others.
Certain American educational institutions (latter half of nineteenth century and early twentieth century) later arose into centers of leadership in the study of fishes and exploration. Harvard University had Samuel Garman (1843-1927). Garmon was a student of Agassiz and he made valuable contributions on the sharks and the deep-sea fishes collected by Albatross. Indiana University became another important research center for fishes under the leadership of David Starr Jordan during the 1880's. He would be then followed by the man whom many would call "the father of characid studies," Carl Eigenmann.
Carl H. Eigenmann (1863-1927) took over and became famous for his valuable contributions on South American fishes. Jordan had trained Eigenmann and inspired his very active ichthyologic career. Eigenmann collaborated in many of Jordan's works and Jordan would later appoint Eigenmann as professor of zoology at Indiana University. Upon Eigenmann's death his successor (Fernandus Payne) praised Eigenmann's researches by stating in his opinion "place him (Eigenmann) in the first rank of ichthyologists of all time." Jordan praised Eigenmann by saying "one of the most eminent workers in the field of systematic zoology and one of the ablest of natural history teachers, withal the most tireless of explorers." Jordan in the meantime left Indiana and took over as first president of Stanford University, California. His leadership in establishing a fish center there is still strong today. When he left Indiana he took with him Charles Henry Gilbert (1859-1928). At Stanford he gathered two important men, John Otterbein Snyder (1867-1943) and Edwin Chapin Starks (1867-1932). For half a century Standford University was the main center for training students in ichthyology. Charles Henry Gilbert was known for his methodical handling of American fishes. His work was primarily on salmon and to apply statistical methods to fishery research. This earned him the title of "the father of modern fisheries biological research in America."
Seth John Meeks (1859-1914) was another of Jordan's students and like Eigenmann revised many early group and regional papers. He largely focused his attention on freshwater fishes of Middle America. Many more followed Jordan's lead and most were his students. George Brown Goode (1851-1896) played an important role in pure and applied ichthyology in the United States. His ichthyology overlapped Jordan, but the two did not publish together. However, they did cooperate effectively. Much of his work was focused on fisheries biology, particularly that of certain commercially important fishes. His research of deep-sea fishes was firmly established since Jordan had no interest in them. Tarleton H. Bean (1846-1916) was an associate of Goode and helped lay out the rational inclusion of deep-sea fishes in the Fishes of North and Middle America. Later Bean's brother Barton A. Bean (1860-1947) followed him as Curator of Fishes in the National Museum. However his reign seemed to be (quoting from Carl L. Hubbs) "less productive and less illustratrious scientific life (during slightly more than the last decade of the nineteenth century and the first two decades of the twentieth)."
Louis Agassiz while in San Francisco picked up another fellow by the name of Samuel Garman (1843-1927) from what was then called "the Wild West." Agassiz trained Garman in ichthyology (both Garman and Jordan were fellow students under Agassiz at Penikese). In addition to publishing a considerable number of minor papers, Garman monographed the "Discoboli" (Cyclopteidae and Liparididae) in 1892, and the Cyprinodontes in 1895. Garmon's work methodical in his attention to the anatomical detail. However, he was never admired nor a member of the Jordan clique. Garmon was indeed a recluse, locking himself into his ill-lit quarters at MCZ. The period 1875-1900 knowledge of fish fauna of the Pacific Coast of the United States flourished. Several incidental studies were conducted by Louis and Alexander Agassiz, Gill, William O. Ayres, James Grahm Cooper (1830-1902), William Gibbons (1812-1897), and a few other lessor known figures. Much of the work reached a standstill during the Pacific Railroad Survey of the 1850's. That is until Jordan and Gilbert carried out their survey in 1880. The collected from British Columbia to San Diego, chiefly fish markets, which then, especially in California, contained a wide variety of inshore fishes.
This were quickly returned to their hotel room where they prepared the fishes for shipment in preservative. Many quick descriptions were done this way with prompt publication following their discovery. These were published in short papers in the Proceedings of the United States National Museum for 1880 and 1881. Never mind, that expediency for correct descriptions was the norm and this would later create problems for ichthyologists to follow. In one situation on a trip to Matzatlán and on two trips to Panamá, in 1881 and 1882, Gilbert made large fish collections that were destroyed by fire. This before a monograph on The Fishes of the Pacific Coast of Tropical America could be written!
by Frank Magallanes, OPEFE
 
Didukung oleh : Karta Jaya Web | TIPS untuk Blogger | TIPS dan TRIK BLOG
Copyright © 2010. LautanBiru.com
Note : Semua artikel yang ada dalam blog ini, semata-mata hanya untuk
dibagikan buat sobat blogger yang membutuhkan
Template blog telah dimodifikasi dengan perubahan tampilan yang ada.
TERIMA KASIH atas kunjungan Anda.
Jika ada saran/kritik, silahkan kirim e-mail ke:
Kartajaya25@gmail.com atau karta.tambunan@ymail.com